UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Rahmad Darmawan: Kapan PSSI-Menpora Lelah?

RD berharap konflik antara PSSI dan Menpora cepat berakhir.




GOALOLEH    MUHAMAD RAIS ADNAN     Ikuti di twitter


Konflik antara PSSI dan Menpora benar-benar sudah membuat sepakbola Indonesia seperti mati suri dalam empat bulan terakhir. Hal itu pula yang dirasakan pelatih Rahmad Darmawan (RD). Menurutnya, saat ini lebih banyak polemik yang tercipta dibandingkan pembinaan ataupun pembangunan sepakbola itu sendiri, yang digaungkan oleh kedua pihak selama berseteru.

RD pun kembali mengingatkan kedua pihak, setelah adanya keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, yang memenangkan gugatan PSSI atas Menpora. Bahkan, RD menyempatkan diri hadir langsung di pembacaan keputusan tersebut, Selasa (14/7) lalu.

“Lalu apa maknanya? Buat saya nggak penting siapa menang dan siapa kalah, dibenak saya hanya berfikir kapan mereka (PSSI-Menpora) lelah? Dan kemudian keduanya mengatakan kami ternyata kalah semua (kalah dua-duanya),” tulis RD, dalam suratnya di laman PSSI. 

“Karena empat bulan terakhir kami telah gagal membuat sepakbola kita lebih baik, karena kami membiarkan orang-orang dengan mudah memfitnah pemain-pemain nasional yang sudah memberi semua kemampuan yg mereka miliki meski mereka gagal mendapat medali, kami kalah,” sambung pelatih Persija Jakarta pada Indonesia Super League (ISL) 2015 itu.
 
Di samping itu, pelatih asal Lampung ini juga mengajak kedua pihak prihatin dengan kondisi timnas Indonesia U-16 dan U-19 yang harus mengubur impian mereka berlaga di pentas internasional, lantaran konflik tersebut. Padahal, dua tim itu direncanakan tampil pada Piala AFF U-16 dan U-19 di Indonesia, tahun ini.

Selain itu, mantan pelatih timnas Indonesia U-23 ini juga menuturkan PSSI dan Menpora semestinya juga merasa kalah, karena belum bisa membuat kompetisi yang melibatkan seluruh klub di Indonesia. Termasuk, gagal memenuhi hak-hak ribuan pesepakbola yang terpaksa tidak berpenghasilan kembali karena berhentinya kontrak mereka, akibat pihak -pihak yang bertikai.

“Saya ingin ini disudahi. Pak, kami lelah. Sudahilah pertikaian ini. Semoga suasana Idul Fitri akan membawa kita menjadi orang-orang pemaaf,” harap mantan pelatih Persipura Jayapura itu.


 


Artikel Lainnya