UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Komdis PSSI Masih Butuh Waktu Putuskan Nasib Supardjiono

Ditulis pada 18 Sep 2015
oleh :

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI urung mengeluarkan keputusan terkait nasib manajer PSS Sleman saat terjadinya sepak bola gajah, Supardjiono. Komdis sebelumnya berencana mengeluarkan keputusan Kamis (17/9).

Rencana itu dibuat setelah Supardjiono dipanggil dalam sidang, Kamis (10/9). Hadir pula asisten pelatih PSS saat terjadinya sepak bola gajah, Edi Broto, dan Panpel laga PSS, Erry Febrianto alias Ableh.

Supardjiono dipanggil menyusul adanya pengakuan empat mantan penggawa PSS, yaitu Hermawan Putra Jati, Satrio Aji, Ridwan Awaludin, dan Moniega Bagus. Supardjiono sebelum disebut-sebut terlibat karena ikut menyuruh untuk mengalah dalam pertandingan yang kini dijelaskan sebagai match setting.

“Kami masih mendalami lagi. Ternyata keterangan manajer PSS berbeda dengan empat pemain, terutama Hermawan. Kami akan memanggil beberapa pemain lagi dan saksi dari PSIS agar keputusan untuk manajemen PSS bisa adil. Manajer PSSI sebelumnya menjelaskan tidak ada permintaan, hanya meminta hati-hati pada Borneo,” kata Ketua Komdis PSSI, Ahmad Yulianto di Kantor PSSI, Senayan, Kamis (17/9).

Baca juga: Sepak Bola Gajah Match Setting, Supardjiono Terancam Hukuman

“Kami akan mencari tahu siapa yang paling bertanggung jawab. Kami akan konfrontir kalau dibutuhkan. Keterangan dari PSIS juga dibutuhkan karena setelah kick-off, pemain PSIS masih pemanasan,” sambungnya.

Sementara soal hukuman yang akan diberikan apabila terbukti bersalah dan bertanggung jawab, Komdis tidak mau berandai-andai. Hanya saja hukuman berupa larangan beraktivitas seumur hidup bisa saja ditetapkan.

“Kami tidak berandai-andai. Bisa saja lebih berat (dari hukuman larangan 10 tahun),” terang Ahmad Yulianto.

Artikel Lainnya