UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Dua Penyebab Klasik Harga Daging Sapi Rp140 Ribu/Kg

Ditulis pada 17 Jul 2015
oleh :

Dua Penyebab Klasik Harga Daging Sapi Rp140 Ribu/Kg


Pedagang daging sapi melayani pelanggan.


Antara/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA– Anggota Komisi IV DPR, Ichsan Firdaus, mengatakan lonjakan harga daging saat Idul Fitri yang menembus Rp140 ribu per kilogram dimungkinkan karena dua faktor klasik.

“Berarti ada dua kemungkinan terjadinya kenaikan harga daging tersebut. Yakni faktor distribusi yang tidak lancar karena dugaan spekulasi dan penimbunan atau data stok daging yang sebenarnya tidak cukup,” kata Ichsan melalui pesan di Jakarta, Jumat (17/7/2015).

Menurut anggota DPR dari Partai Golkar itu, kalau faktor distribusi yang jadi masalah, maka berarti Keppres tentang larangan penimbunan, tidak berjalan dengan baik dan efektif.

“Kalau faktor data stok yang tidak akurat, berarti kalkulasi stok daging dari Kementerian Pertanian harus dievaluasi,” katanya.

Oleh karena itu, harus ada koordinasi yang baik antar lembaga dan implementasi kebijakan yang harus efektif ke bawah.

 “Harga daging seharusnya kisaran Rp100-Rp120 ribu per kilogramnya. Kalau data yang tidak akurat, Menteri Pertanian harus bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurut dia, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengatakan stok daging cukup tapi harga daging naik.

“Berarti blusukan Mentan selama ini harus dilakukan evaluasi mendalam. Blusukan Mentan itu baik kalau diiringi strategi pengelolaan pangan yang efektif. Tapi, blusukan tanpa ada visi dan strategi pengelolaan pangan, dikhawatirkan hanya untuk konsumsi pencitraan saja,” demikian Ichsan Firdaus.

Sumber

Artikel Lainnya