UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Gapki minta jaminan tak ada tambahan pungutan

Ditulis pada 29 Jun 2015
oleh :

JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meminta pemerintah menjamin pasca pemberlakukan pungutan kelapa sawit atau CPO Fund tidak ada lagi pungutan lain yang membebankan pengusaha. Sebab, pungutan tambahan tidak resmi membuat daya saing CPO Indonesia berkurang.

Joko Supriyono, Ketua Umum Gapki mengatakan, dampak pungutan membuat penurunan kualitas sebuah barang. Apalagi tidak jamin harga naik untuk minyak sawit. Sebab, komponen pembentuk harga juga tidak lagi hanya berasal dari supply dan demand. Tapi juga salah satunya cara pengolahan produk tersebut.

Itu sebabnya, Gapki meminta pemerintah untuk menghapus pungutan atau sumbangan pihak ketiga di daerah termasuk juga biaya retribusi. Sebab biaya tersebut menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan menurunkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia.

“Dalam jangka pandek akan menimbulkan atau menyebabkan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani akan tertekan. “Daya saing Indonesia di pasar internasional menurun dan market share terancam,” tandas Joko pada akhir pekan lalu.

Apalagi saat ini, produksi minyak sawit Indonesia terancam dengan adanya El Nino. Gangguan tersebut akan mempengaruhi produksi kelapa sawit yang membuat produksi akan turun. Sepanjang Januari sampai Mei lalu ekspor crude palm oil (CPO) sebesar 10,1 juta ton atau naik 26% dibandingkan periode sama tahn lalu. Kondisi ini tertolong karena Tiongkok tengah menggalakkan penggunaan biodiesel.

Editor: Barratut Taqiyyah

Read More

Artikel Lainnya