UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

OJK: Mayoritas bank pangkas target pertumbuhan

Ditulis pada 30 Jun 2015
oleh :

JAKARTA. Otoritas Jasa Keungan (OJK) telah menerima sebagian besar revisi rencana bisnis bank (RBB). Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Darmansyah Hadad mengungkapkan, berdasarkan data revisi RBB yang telah diterima OJK tersebut, sebagian besar bank melakukan revisi ke bawah atas target proyeksi kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dengan demikian, dari semula target proyeksi pertumbuhan kredit industri perbankan berada di level 15%-17%, maka dengan revisi ini, target proyeksi pertumbuhan kredit industri perbankan diperkirakan hanya tumbuh sebesar 14%-15%. “Memang terjadi sedikit penyesuaian ke bawah. Akan ada penyesuaian, karena hampir semua bank sudah menyampaikan revisi RBB. Hanya tinggal sedikit lagi yang belum menyampaikan revisi RBB,” kata Muliaman di Jakarta, Senin (29/6).

Selain revisi target proyeksi pertumbuhan kredit, perbankan juga melakukan revisi atas target proyeksi dana pihak ketiga (DPK). Namun revisi DPK ini, hanya memiliki sedikit selisih dari target proyeksi perbankan sebelumnya. “Penyesuaian pada DPK lebih sedikit, sehingga likuiditas jadi agak membaik,” ucapnya.

Dengan begitu, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) industri perbankan mengalami penurunan. Atas perlambatan pertumbuhan ekonomi yang berimbas pada perlambatan pertumbuhan kredit ini, terdapat potensi kenaikan rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL).

Meski begitu, kata Muliaman, potensi kenaikan NPL tersebut akan bersifat relatif. Sebab, meski secara rasio NPL berpotensi meningkat, hal tersebut hanya terjadi disektor-sektor yang telah diwaspadai sebelumnya. Peningkatan NPL tersebut wajar terjadi, karena menurunnya permintaan kredit dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Yang terpenting adalah apakah perbankan juga menyiapkan pencadangan untuk meng-cover perlambatan yang terjadi. Kami memperkirakan NPL net masih tetap dikisaran 1%,” katanya.

Diharapkan, pertumbuhan ekonomi dapat lebih bergairah pada semester II-2015, lantaran pemerintah telah berkomitmen untuk mengeluarkan belanja negara.

 

Editor: Sanny Cicilia

Read More

Artikel Lainnya