UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Sisa pertengahan tahun, Waskita incar tiga proyek

Ditulis pada 30 Jun 2015
oleh :

JAKARTA. Agenda PT Waskita Karya (Persero) Tbk untuk menguasai sejumlah ruas tol belum tuntas. Meski telah menguasai saham atas tujuh konsesi tol, emiten pelat merah tersebut masih melirik beberapa tol lagi.

“Hingga akhir tahun, masih ada sekitar tiga proyek tol lagi yang kami incar,” ujar Antonius Yulianto, Sekretaris Perusahaan Waskita Karya akhir pekan lalu, (26/6).

Sayang, dia masih merahasiakan tiga titik tol mana yang sedang diincar. Anton hanya memastikan, tiga ruas tol tersebut secara geografis terletak di Pulau Jawa dan Bali. Memang, dua pulau ini tengah jadi fokus percepatan pembangunan tol.

Jika Waskita berhasil mengakuisisi tiga tol tersebut di sisa pertengahan tahun ini, maka hingga akhir tahun nanti perseroan bakal menguasai sebagian saham sepuluh proyek tol. Sebelumnya, perseroan telah menguasai sebagian saham atas tujuh proyek tol.

Ketujuh tol tersebut adalah, 30% saham jalan tol Medan Kualanamu–Tebing Tinggi, 25% saham proyek jalan tol Depok–Antasari, juga 100% saham proyek tol Pejagan–Pemalang dan mengakuisisi 60% proyek tol Becakayu di Jakarta.

Lantas, tiga proyek tol lain adalah, Solo–Ngawi, Ngawi–Kertosono dan Cinere–Serpong. Di tiga proyek tol tersebut, Waskita Karya menguasai masing-masing 40% saham.

Untuk tahun ini, emiten dengan kode saham WSKT itu bakal memperoleh duit segar Rp 5,3 triliun yang bakal digunakan sebagai sumber pendanaan akuisisi tol tersebut. Sebesar Rp 4,8 triliun berasal dari Penyertaan Modal Negara, dan sisanya Rp 1,8 triliun dari dana publik.

Sementara, untuk ketujuh tol itu saja nilai investasinya bisa mencapai Rp 40 triliun. Nah, disinilah manfaat sumber pendanaan yang berasal dari pihak eksternal selain pinjaman perbankan. Ketika Waskita meraup Rp 5,3 triliun, pada saat yang bersamaan ekuitas perseroan bertambah.

Anton bilang, Waskita memiliki ruang untuk menarik pinjaman (leverage) hingga tiga kali diatas nilai ekuitas. Asumsikan saja dengan ekuitas yang baru, Rp 5,3 triliun. Berarti, setidaknya leverage perseroan tiga kali lipat, atau dengan kata lain memiliki ruang untuk menarik pinjaman hingga Rp 15 triliun.

Kekurangan untuk sisa akuisisi proyek masih bisa diambil dari sumber pendanaan lain, salah satunya surat utang dengan skema Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) dengan plafon Rp 2 triliun. Sebesar Rp 500 miliar sebelumnya sudah ditarik. Sisanya akan mulai ditarik sebelum akhir tahun ini.

Anton menambahkan mengakuisisi proyek tol memang butuh dana yang tidak sedikit. Tapi, imbal hasilnya menarik dan sangat prospektif. Seperti ruas tol dalam kota yang menghubungkan Cawang hingga Tanjung Priok. Ketika hitung-hitungan bisnisnya disusun, seharusnya proyek tersebut baru bisa balik modal dalam waktu puluhan tahun.

Tapi, ternyata hanya butuh belasan tahun untuk mencapai break event point (BEP). Sekarang, para pemilik tol tersebut tinggal menikmati hasilnya saja.

Tapi, untuk catatan, Waskita belum tentu menguasai proyek tol selamanya. Sebab, strateginya adalah, Waskita mengakuisisi lalu didivestasi. Perseroan bakal menjual kembali proyek tol jika proyek tersebut mencapai level marjin tertentu. “Levelnya berapa, itu rahasia dapur perusahaan,” pungkas Anton.

Editor: Yudho Winarto

Read More

Artikel Lainnya