UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Paus Fransiskus serukan perdamaian di Afrika Tengah

Ditulis pada 30 Nov 2015
oleh :
Tag:

Paus Fransiskus

Paus Fransiskus meminta faksi yang berseteru di Republik Afrika Tengah meletakkan senjata dan mempersenjatai diri “dengan keadilan, cinta, pengampunan, dan perdamaian”.

Ia berbicara pada Misa di ibu kota Afrika Tengah, Bangui, yang merupakan tujuan terakhir dalam rangkaian kunjungannya ke Afrika.

Afrika Tengah dilanda konflik antara kelompok pemberontak Muslim dan militan Kristen.

Paus mengatakan, dia berharap pemilu yang diselenggarakan pada bulan depan di Afrika Tengah membuka “lembaran baru” bagi negara itu.

Presiden sementara Catherine Samba-Panza meminta “pengampunan” kepada Paus karena kekerasan atas nama agama yang terjadi di negerinya.

Ribaun orang berkerumun di jalan untuk menyambut Paus -dan mereka bersorak dan bernyanyi ketika Paus tiba di penampungan pengungsi.

Dalam pidato di istana presiden, Paus menyerukan persatuan dan mengajak hadirin menghindari “godaan rasa takut kepada (kelompok) lain, (kelompok) asing, yang bukan bagian dari kelompok etnik kita, pandangan politik kita, dan agama kita”.

Paus mengatakan sebelum memulai kunjungannya di Afrika, ia bertekad membawa pesan perdamaian dan harapan.

Selain Afrika Tengah, Paus juga mengunjungi Uganda dan Kenya.

Pada Senin (30/11), Paus berencana mengunjungi permukiman Muslim di Bangui, yang dinamakan PK5.
Perang telah berkecamuk di Afrika Tengah selama puluhan tahun, tapi baru dua tahun lalu melibatkan agama.

Presiden Francois Bozize digulingkan dalam kudeta pada Maret 2013 dan kelompok pemberontak Seleka, yang sebagian besar Muslim, menduduki Bangui dan menguasai negara untuk sementara.

Mereka menyasar gereja dan komunitas Kristen, yang memicu pembentukan militan anti-Balaka -berarti anti-kekerasan- dan berujung pada tindakan saling melakukan kekerasan dan terus berlanjut.

Kota dan desa terpecah, dengan ratusan dan ribuan orang terpaksa pindah ke penampungan berdasarkan agama.

Sumber: BBC.com

Artikel Lainnya