UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Ibu rumah tangga, kelompok pengidap HIV/AIDS tertinggi

Ditulis pada 01 Dec 2015
oleh :
Tag:

01

Jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dalam sepuluh tahun terakhir secara umum meningkat. Peningkatan ini sejalan dengan makin banyaknya masyarakat yang sadar dan melakukan tes HIV.

Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Sigit Priohutomo, mengatakan meningkatnya jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia layaknya fenomena gunung es. Namun fenomena tersebut perlahan tapi pasti mulai terangkat.

“Ibu rumah tangga menjadi salah satu kelompok yang pengidapnya paling tinggi. Hasil riset kami ada sekitar 9.096 orang sejak tahun 1987 sampai September 2015,” kata Priohutomo kepada Okezone.com.

“Ibu rumah tangga merupakan profesi yang harusnya berisiko rendah tetapi karena punya pasangan yang berisiko tinggi sehingga banyak yang terkena HIV. Perempuan lebih beresiko tertular karena mereka menerima cairan (sperma) sehingga jika selama berhubungan ada luka maka bisa tertular pasangannya yang sudah positif HIV,” jelas Executive Director Indonesian Business Coalition on Aids (IBCA), Ramdani Sirait, seperti dikutip kantor berita Antara.

Contohnya, seperti dipaparkan Seruu.com adalah Hartini (35 tahun) merupakan seorang ibu dengan HIV/AIDS yang baru mengetahui bahwa dirinya terinfeksi setelah melahirkan anak ketiganya.

“Anak laki-laki saya meninggal usia sembilan bulan karena positif HIV. Sebelumnya, saya tidak percaya anak saya terinfeksi karena dulu mikirnya HIV itu penyakit seks yang hanya menginfeksi pekerja seks dan pecandu narkoba, sedangkan saya seorang ibu rumah tangga yang sangat percaya dengan suami saya (kini sudah cerai),” ungkap Hartini yang sudah menikah lagi, dan kini aktif sebagai konselor Pencegahan Penularan Ibu dan Anak (PPIA).

RMOL menyebutkan setelah ibu rumah tangga, di urutan berikutnya adalah profesi karyawan dengan 8.287 kasus, kemudian wiraswasta dengan jumlah kasus 8.037.

Selain ibu rumah tangga, Pos Kota News mencatat sektor transportasi menjadi salah satu sektor yang sangat rawan terhadap penularan kasus HIV/AIDS.

“Kegiatan transportasinya tentu tidak akan menjadi penular HIV/AIDS. Tetapi perilaku orang dengan mobilitas yang tinggi sangat rentan berperilaku yang berisiko tertular HIV/AIDS,” ujar Priohutomo.

Untuk menurunkan kasus HIV/AIDS, kampanye akan dilakukan melalui alat transportasi umum. Mereka yang memiliki mobilitas tinggi jarak jauh, seringkali memiliki kecenderungan untuk melakukan seks bebas.

MetrotvNews menyebutkan salah satu ranah dalam mobilisasi yakni 3M atau “man, mobile, with money” yaitu pria yang bepergian dengan memegang uang. Itu yang berisiko.

“Biasanya kan orang bepergian membawa uang yang cukup banyak,” kata Priohutomo.

Detikcom yang melansir data Kemenkes menyebut pada 2005, 859 orang dilaporkan mengidap HIV. Pada 2008 naik menjadi 10.362 orang, dan kembali meningkat pada 2010 menjadi 21.591 orang.

Jumlah ini lagi-lagi meningkat pada 2013 dengan 29.037 orang, lalu pada 2014 menjadi 32.711 orang. Per September 2015, sudah mencapai angka 24.791 orang. Adapun kasus HIV pada Juli-September 2015 saja sejumlah 6.779 kasus.

Faktor risiko penularan HIV tertinggi adalah hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (46,2 persen) penggunaan jarum suntik tidak steril pada pengguna narkoba suntikan (3,4 persen), dan LSL (Lelaki sesama Lelaki) (24,4 persen).

Sementara, kasus AIDS sampai September 2015 sejumlah 68.917 kasus. Berdasarkan kelompok umur, persentase kasus AIDS tahun 2015 didapatkan tertinggi pada usia 20-29 tahun(32,0 persen), 30-39 tahun (29,4 persen), 40-49 tahun (11,8 persen), 50-59 tahun (3,9 persen) kemudian 15-19 tahun (3 persen).

Kasus AIDS di Indonesia ditemukan pertama kali pada tahun 1987. Sampai September 2015, kasus AIDS tersebar di 381 (77 persen) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.

Wilayah pertama kali ditemukan adanya kasus AIDS adalah Provinsi Bali. Sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada 2011.

Sumber: beritagar.id

Artikel Lainnya