UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Prosopagnosia, penyakit buta-wajah yang tak kenali muka teman

Ditulis pada 08 Dec 2015
oleh :
foto ist

Prosopagnosia, penyakit buta-wajah yang tak kenali muka teman (ilustrasi)

Pernahkah Anda bertemu seseorang tapi wajahnya benar-benar tidak bisa diingat sama sekali? Jika Anda sering mengalami hal seperti itu ada baiknya segera berkonsultasi dengan dokter pribadi Anda.

Situs BGLCOnline menyebutkan kondisi seperti itu disebut sebagai gangguan buta-wajah atau prosopagnosia, yaitu penyakit yang mengakibatkan seseorang mengalami kesulitan mengenali wajah kenalannya.

Beberapa orang dilaporkan mampu mengenali wajah seseorang dengan sangat baik, sementara ada juga orang lainnya yang memiliki respon sangat buruk ketika mendapat stimulasi objek wajah.

Kondisi ini biasanya dilengkapi dengan kesulitan lainnya dalam aspek memproses informasi lainnya, seperti usia, jenis kelamin, atau memahami emosi pada wajah seseorang. Dalam beberapa kasus tertentu, penderita prosopagnosia bisa sampai mengalami kesulitan dalam urusan menentukan arah.

Salah seorang pesohor tampan yang mengidap prosopagnosia adalah Brad Pitt. Dalam sebuah wawancara dengan majalah terkenal, Esquire, Pitt mengaku sulit mengenali wajah orang yang sebenarnya pernah dikenalnya.

“Begitu banyak orang membenci saya karena mereka mengira saya tidak menghargai mereka. Saya akan memeriksakannya,” kata Brad Pitt dalam wawancara tersebut seperti dilansir Medical Daily.

Independent mewartakan penelitian terbaru menunjukkan bahwa penyakit lupa-wajah bisa dilacak kembali pada saat tahap proses persepsi dilakukan.

Para ilmuwan mengatakan setiap wajah manusia itu unik dan membentuk identitas seseorang sebagai bagian dari komunikasi antarpribadi.

Namun, keunikan itu tidak bisa dikenali oleh orang yang menderita prosopagnosia. Orang yang mengidap gangguan ini tidak bisa memanfaatkan keunikan wajah orang lain untuk mengenalinya saat bertemu.

Diperkirakan satu sampai dua persen manusia mengalami kesulitan mengenali wajah orang yang sebenarnya pernah dikenalnya.

Sampai sekarang penyebab buta-wajah diperkirakan berhubungan dengan tahap lanjutan dalam proses persepsi. Tahap ini melibatkan proses mengubah informasi wajah menjadi kode abstrak dalam ingatan jangka panjang.

Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Andreas Luschow dari Charite University di Berlin telah memusatkan perhatian mereka pada sekelompok orang yang mengalami masalah serius dalam mengenali wajah seseorang yang mereka kenal sejak masa muda. Namun tidak ada bukti bahwa mereka mengalami cacat kognitif.

“Kami berhasil menunjukkan bahwa meski baru dalam proses awal yaitu pada sekitar 170 milidetik setelah melihat wajah seseorang, respon pengenalan wajah berubah pada orang yang mengalami gangguan prosopagnosia. Kami juga mampu menunjukkan bahwa perubahan ini sangat berhubungan dengan ketidakmampuan mereka dalam mengenali wajah,” ujar Luschow.

Para peneliti yang berasal dari Physikalisch-Technische Bundesanstalt Berlin dan University of Bamberg, menggunakan MEG (magnetoencephalography) untuk mengukur pesan magnetik dari aktivitas kortikal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski sudah pernah mengenal sejak lama, orang yang menderita prosopagnosia tetap tidak bisa mengenali wajah orang yang sebenarnya sudah dikenalnya itu.

Sementara itu DW menyebutkan alasan munculnya gangguan ini adalah kerusakan dalam otak. Manusia sehat jika melihat wajah akan mempelajari struktur wajah terlebih dahulu. Lalu, “rekaman” tersebut dikirimkan ke bagian otak khusus. Ada bagian otak yang mempelajari mimik wajah dan arah pandangan, sementara bagian lain mempelajari ciri khusus wajah tersebut. Bagian ketiga memeriksa apakah sudah ada pengalaman yang dilewati bersama orang tersebut.

“Semua bagian harus bekerja sama dengan baik untuk memungkinkan kita mengenali seseorang,” kata Janek Lobmaier, ahli psikologi di Universitas Bern di Swiss. Begitu ada bagian otak yang tidak melakukan fungsinya, masalah akan segera timbul.

Meskipun disebut sebagai penyakit langka, prosopagnosia bisa diatasi tanpa masalah besar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang mengidap penyakit ini harus berusaha mengenali orang lain berdasarkan ciri lain. Seperti cara mereka berjalan, pakaian atau suara.

Sumber: beritagar.id

Artikel Lainnya