UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Protein Ada Di Dua Potong Tempe Sehari

Ditulis pada 05 Aug 2015
oleh :
Tag:

Jakarta Langkah PERGIZI PANGAN (Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan) Indonesia untuk menjadikan tempe sebagai warisan budaya dunia patut jadi perhatian.

Bagaimana tidak, dengan hanya kira-kira 2 potong tempe (100gr) mampu mencukupi kebutuhan harian protein dan asam amino sebesar 37 persen.

“Tempe mengandung berbagai jenis Vitamin B, mineral, besi, tembaga dan Zinc. Juga glutamic acid, aspartic acid, leucine, arginine, proline, serine, alanine, valine, lysine, phenylalanine, isoleucine, threonine, gycine dan tyrosine yang baik untuk kesehatan,” kata ‎Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan‎ Kementerian Kesehatan, Prof Tjandra Yoga Aditama melalui pesan elektronik, Rabu (5/8/2015).

Tempe juga relatif mudah didapat di berbagai daerah negara kita. Data Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) yang dikerjakan Balitbangkes 2014 dan laporannya diselesaikan tahun 2015 ini menunjukkan, konsumsi kacang dan polong serta produknya sebagai protein nabati di Indonesia adalah 56,7 gram per hari. Angka ini jauh lebih tinggi dari negara tetangga, Thailand dan Filipina yang hanya mengkonsumsi 8-9 gram per hari.

“Tempe adalah bagian dari budaya khas Indonesia, dan secara hukum internasional kita perlu melindunginya dalam konsep GRTKF (genetic resources traditional knowledge and folklore)‎‎,” ungkapnya.

GRTKF adalah konsep yang dibicarakan di dunia diplomasi internasional, walau belum sepenuhnya disetujui semua negara, terutama oleh negara maju. Konsep GRTKF ini menunjukkan perlindungan pada suatu negara yang punya bahan genetik atau pengetahuan tradisional maupun dongeng budaya yang semuanya harus dilindungi hukum internasional.

Sumber: Liputan6

Artikel Lainnya