UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Ratusan Sopir Angkutan Darat Geruduk Kantor Ahok

Ditulis pada 14 Mar 2016
oleh :
ilustrasi

ilustrasi

itoday – Ratusan sopir angkutan darat menggelar aksi mogok massal dan unjuk rasa di depan kantor Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) , Balai Kota DKI pada Senin pagi.

Para sopir menuntut agar pemerintah menutup angkutan umum atau taksi yang berbasis aplikasi online “Kami meminta kepada petugas dan pejabat yang berwenang untuk menegakkan aturan. Pada hakikatnya Uber dan Grab Car menyerobot beberapa izin. Termasuk merampok mata pencaharian kami,” kata koordinator sopir taksi Ekspress Sodikin, Senin (14/3/2016).

Sodikin menambahkan, munculnya angkutan berbasis aplikasi online di Indonesia telah melanggar beberapa peraturan perundang-undangan yakni UU No 22/2009  tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Mereka tidak ada KIR, tidak ada izin usaha. Sedangkan kami, jika tidak punya izin saja kami dilarang,” seru Sodikin.

Meski para pengendara jasa angkutan umum berbasis aplikasi telah memiliki surat izin mengemudi, dan telah memiliki Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), menurut Sodikin hal tersebut belum cukup sebagai syarat menjadi sebuah angkutan massal.

“Karena STNK bukan tanda legalnya suatu usaha, tapi surat pertanda nomor kendaraan. Bukan izin legal,” jelasnya. Sodikin meminta  pejabat berwenang seperti gubernur, Presiden, atau Kemenkominfo untuk menutup aplikasi Uber dan Grab.

Karena mereka telah merampas hak  sebagai angkutan umum yang telah berjuang bertahun-tahun melayani masyarakat dengan baik.”Mereka menikung di tengah jalan dengan menjual harga dumping. Mereka menghancurkan sistem transportasi di Jakarta,” tutupnya.

sumber : sindonews.com

Artikel Lainnya