UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

KEREENN…!! Keliling Indonesia dengan Vespa Bekas

Ditulis pada 09 Feb 2016
oleh :
vespa-bekas
photo : ist.

itoday – Selama hampir empat tahun, Ilham Saputra mengelilingi 31 provinsi di Indonesia dengan Vespa bekas yang telah dimodifikasi. Sepanjang perjalanan dengan kecepatan 60 km/jam, Ilham menghabiskan 40-an ban bekas dan empat kampas kopling. Bagaimana kisahnya?

Tak ada persiapan khusus yang dilakukan Ilham untuk menjelajahi jalanan yang terjal dan tentu penuh risiko. Pemuda berusia 22 tahun ini hanya bermodal keyakinan dan keinginannya mengenal Indonesia lebih dekat.

“Persiapannya ya biasa saja, nggak ada ada persiapan khusus. Karena saya memang hobi modifikasi Vespa-Vespa bekas termasuk yang sudah hancur,” ungkap Ilham Saputra ketika ditemui KORAN SINDO di Kantor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid), Semarang.

“Untuk biaya modifikasi dari modal pribadi dari hasil usaha di bengkel, jadi sopir dan lain sebagainya,” sebut dia tanpa menyebutkan jumlah nominal yang dihabiskan untuk memodifikasi Vespa.

Pemuda asal Cacangranda, Tiku Utara, Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Padang,  Sumatera Barat ini menceritakan bahwa perjalanan mengelilingi Indonesia diawali dari Kilometer Nol di Sabang, Aceh pada September 2011.

Banyak kisah menarik saat mengarungi perjalanan di Kota Serambi Aceh. Ilham terpaksa harus melintasi daerah konflik, yang saat itu masih terdapat basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Selama perjalanan dia pun mendapatkan pengawalan dari komunitas klub asal Aceh yang lebih memahami medan.

“Atas saran teman-teman klub, saya melakukan perjalanan pada malam hari selama melintasi kawasan rawan konflik. Karena kalau jalan malam hari dinilai lebih aman,” ujarnya.

Dari Aceh, Ilham kembali menyisir jalanan di Kota Padang. Tak banyak kisah menarik di tempat kelahirannya ini. Karena itu, dia tak terlalu berlama-lama mengelilingi Padang.

Artikel Lainnya