UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Berfikir Dahulu Sebelum Bertindak

Ditulis pada 23 Apr 2014
oleh :
photo ist

photo ist

Itoday – Judul di atas merupakan pepatah yang sering kita dengar dalam pergaulan sehari-hari. Pepatah itu mengajak kita untuk berhati-hati dalam berbuat sesuatu; jangan bertindak ceroboh dan sembrono.

Ya, saya pun sepakat dengan anjuran itu. Malahan, saking hati-hatinya saya seringkali telat dalam merespon sesuatu hal. Bagaimana dengan anda? Apakah anda termasuk orang yang ceroboh atau teliti dalam bertindak?
Kita dengan berbagai aktivitas dan waktu yang tersedia juga sarana moderen yang ada memang selalu ingin segalanya serba cepat dan instant. Dan terkadang tanpa memikirkan dulu apakah jalur yang diambil halal atau haram, yang penting cepat beres dan berhasil.

Kta lihat fenomena yang sering media hadirkan ketengah-tengah kita. Pejabat yang ingin cepat kaya dan naik jabatan misalnya, ia melakukan korupsi dan dan sogok sana sogok sini demi tercapai keinginannya. Padahal harta yang didapat adalah untuk menafkahi keluarganya. Na’udzubillahi min dzalik.

Saya teringan tulisannya Syaikh Taqiyyudin an-Nabhany dalam kitabnya at-Tafkir ( Berfikir cepat dan mendalam), beliau menulis bahwa dalam berfikir – tentang apapun – kita melibatkan dan memerlukan empat komponen. Kalau salah satunya tidak ada atau tidak dipakai maka proses berfikirnya akan kacau dan yang lebih fatal hasilnyapun merupakan pemikiran yang rusak dan kacau seperti kaum liberalis.
Keempat komponen yang dimaksud beliau adalah.

1.otak yang sehat
2.alat indera
3.fakta yang terindera
4.dan informasi-informasi terdahulu ( diperoleh melalui proses belajar atau pengalaman)

keempat komponen ini wajib adanya dan harus selalu dilibatkan dalam proses berfikir. Prosesnya dapat diilustrasikan begini:
Dihadapan saya dihidangkan masakan daging yang sangat menggoda selera, kemudian otak dan panca indera saya meresponnya dengan keinginan untuk mencicipi daging tersebut, apalagi hampir satu minggu belum mencicipi daging. Setelah saya tanyakan daging apakah ini, rasa lapar dan keinginan untuk mencicipi dagingpun hilang seketika. Bahkan saya hampir-hampir muntah di meja makan. Karena ternyata yang dihidangkan adalah daging babi (babi haram dimakan oleh umat islam).

Dari ilustrasi di atas kita tahu daging babi memang haram untuk dimakan sekalipun tampilan dan aromanya menggoda selera. Saya yakin andapun sepakat dengan saya karena berdasarkan informasi yang kita peroleh semenjak dulu terutama dari guru ngaji babi itu haram untuk dimakan.

Disinilah pentingnya keempat komponen berfikir tersebut, apabila salah satunya tidak ada maka prosesnya pun akan terhambat. Namun, untuk dapat menghasilkan pemikiran yang benar dan sahih harus diperhatikan bahwa informasi terdahulu menyangkut fakta yang kita hadapi adalah benar. Sebab kalau infonya salah akan menghasilkan pemahaman yang berbeda pula meskipun fakta yang dihadapi sama.

Artikel Lainnya