UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Energi Alternatif Dari Limbah Tebu

Photo: (ugm.ac.id)

Photo: (ugm.ac.id)

itoday – Keberadaan limbah tebu sangat melimpah di Indonesia, sayangnya belum begitu dimanfaatkan oleh masyarakat. Kebanyakan hanya dijadikan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan uap air dalam industri gula.

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan inovasi dari limbah tebu yang banyak mereka temui. Mereka adalah Rivandi Pranandita Putra, Agustinus Wahyu Krisnanta, dan Latiful Muttaqin. Keempatnya mengusung inovasi biobriket limbah ampas tebu dengan enceng gondok (BIOLATEK) sebagai alternatif sumber energi terbarukan untuk Indonesia swadaya energi.

Ketua tim UGM, Rivandi menyampaikan selama ini ampas tebu hanya menjadi limbah yang tidak banyak dimanfaatkan masyarakat. Bahkan menjadi sumber pencemaran lingkungan di sekitar pabrik gula. Padahal di dalamnya masih berpotensi digunakan untuk sumber energi alternatif melalui pengolahan lebih lanjut.

Rivandi memaparkan dalam satu kilogram limbah ampas tebu mengandung setidaknya 2,5 persen gula dengan nilai kalor sebesar 1.825 kkal. Nilai kalor tersebut masih bisa ditingkatkan melalui pencampuran dengan sumber biomassa lainnya seperti enceng gondok.

“Melihat luasnya perkebunan tebu di Indonesia yang akan terus bertambah seiring dengan gerakan swasembada gula nasional,  pemanfaatan limbah ampas gula ini tentu menjadi potensi baru pengembangan energi di tanah air,” kata Rivandi, seperti dilansir dari laman UGM.

Pengembangan biobriket nantinya diharapkan selain digunakan untuk keperluan rumah tangga dan industri, dapat juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, biobriket bisa memberikan pilihan energi alternatif terbarukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil.

“Harapanya kedepan dengan biobriket ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar fosil dan mewujudkan Indonesia mandiri energi,” tandasnya Rivandi.

Artikel Lainnya