UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Hati Dari Emas Mulia

Ditulis pada 24 Apr 2014
oleh :
Photo (ist)

Photo (ist)

itoday – Sebuah pertanyaan yang sering kita dengarkan dalam hidup ini adalah apakah saya cukup mulia dalam menjalankan hidup ini? apakah saya berhati emas? apakah saya sempurna? semoga artikel ini membuat sahabat lebih mengerti akan arti kesempurnaan. Andakah si hati emas? sosok yang paham tentang ketidaksempurnaan dirinya, dan memaafkan ketidaksempurnaan orang lain.”

Sungguh tidak mudah ketika harus memaafkan ketidaksempurnaan orang lain. Kebanyakan lebih mudah menuntut orang lain sesuai dengan apa yang kita inginkan, meski kita sadar bahwa tuntutan yang berlebihan akan berujung pada kekecewaan.

Seorang sahabat yang selalu memimpikan sahabatnya yang lain selalu ada di saat suka dan duka, maka bersiaplah untuk kecewa karena memang tidak ada yang bisa ideal untuk bersama dengan kita di saat suka dan duka. Seorang teman yang berharap kehadiran teman-temannya untuk mendengarkan segala keluh kesah maka bersiaplah untuk kecewa karena sejatinya semua orang ingin didengarkan tapi belum tentu mau hadir untuk mendengarkan orang lain.

Tidak mudah bukan, banyak pemimpin perusahaan yang kecewa terhadap kinerja anak buahnya dan banyak pula karyawan yang dikecewakan dengan kebijakan pimpinan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Banyak guru yang berharap muridnya bisa mencerna apa yang dia berikan tapi di sisi lain banyak murid yang ingin gurunya dapat mengajar sebagaimana yang mereka inginkan.

Manusia menuntut kesempurnaan sedangkan kehidupan menjanjikan realita yang tidak pernah sempurna.

Dulu aku pun demikian, hingga seorang sahabat berbicara kepadaku dari hati ke hati. Dia menitipkan sebuah pesan bahwa “jika kita tidak bisa sempurna di hadapan orang lain maka jangan pernah menuntut kesempurnaan orang lain. Berdamailah dengan memahami segala keterbatasan diri dan maafkanlah keterbatasan orang lain.”

Aku pun bertanya kepadanya “lalu kepada siapa harus dititipkan harapan yang kita inginkan, di saat siapa pun tidak menjamin bisa mewujudkan apa yang kita harapkan.” Dia tersenyum dan mengacungkan jarinya ke atas.

“Kita punya Tuhan, Dialah yang Maha sempurna, dan bagi-Nya tidak ada jalan buntu, dan kesempurnaan-Nyalah yang akan mengabulkan segala yang terbaik yang kamu harapkan atau yang tidak pernah engkau perkirakan sekalipun.”

Aku pun khusyuk mendengarkan hingga dia kembali menepuk pundakkmu dan mengatakan.

“Saat kau sadar akan kesempurnaan-Nya maka berhentilah mengharapkan kesempurnaan manusia, pahami keterbatasanmu dan maafkanlah ketidaksempurnaan orang lain, jadilah orang yang berhati emas yang menganggap setiap kekurangan orang lain adalah biasa karena dia pun paham tentang berjuta-juta kekurangan yang ada pada dirinya. Hidup ini akan tenang dan terhindarkan dari kekecewaan yang menenggelamkan.”

Artikel Lainnya