UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Kisah anak-anak inspiratif dari Indonesia

Ditulis pada 24 Apr 2014
oleh :
photo ist

photo ist

Itoday

Mungkin masih banyak Tasripin-Tasripin lain atau Sinar-Adit yang lain di bumi Indonesia ini yang belum terjamah oleh media. Dibalik dera kemiskinan yang mereka hadapi, mereka bertahan karena rasa kasih sayang terhadap keluarga yang mereka miliki. Kisah mereka patut dijadikan sebuah tauladan bagi kita semua.

1. Tasripin

Kisah Tasripin yang berubah kehidupan ekonominya setelah mendapatkan perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sungguh mengharukan.
Anak kecil yang terpaksa bekerja sebagai buruh tani demi menafkahi adik-adiknya itu telah mendapatkan berbagai santunan. Di usia baru 13 tahun, Tasripin sudah bekerja keras menghidupi tiga adiknya. Di sebuah sudut Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, Tasripin meninggalkan bangku sekolah karena tak mampu membayar SPP dan memilih bekerja di sawah orang demi memberi makan Dandi (7), Riyanti (6) dan Daryo (4).
Mereka menempati sebuah rumah berdinding kayu berukuran 5 kali 7 meter per segi. Ayah dan kakak tertua mereka merantau ke Kalimantan, sementara ibu mereka meninggal setahun yang lalu tertimpa longsor. Alhasil, tinggallah empat kakak-beradik itu bertahan hidup seadanya.
Warga sekitar yang bersimpati pada mereka kerap memberi makanan, baju dan uang. Tawaran untuk mengasuh mereka juga datang, namun Tasripin menolak. Tasripin terpaksa harus merawat tiga adiknya karena Satinah, sang ibu, telah meninggal dunia setahun yang lalu karena tertimpa longsoran tanah saat tengah bekerja mencari pasir. Sementara ayah dan kakak mereka telah merantau jadi buruh di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.
Tasripin pun harus bekerja serabutan agar sang adik dapat membeli jajan dan makan. Selain bekerja, pagi hari, Tasripin sudah harus mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Dari mulai mandi, mencuci baju adik-adiknya, menyiapkan makan, dan lalu pergi bekerja.
Keberadaan mereka pun akhirnya terungkap luas setelah muncul berita di media massa lokal. Kini, Tasripin telah mendapatkan rumah yang layak, lengkap dengan berbagai fasilitas. Usaha ternak kambing, yang sempat diidamkan Tasrpin pun terkabul. Yang tak kalah penting, sebentar lagi Tasripin dan adik-adiknya dapat melanjutkan sekolah.

2. Indah Sari

Namun, tak semua anak yang terpaksa membanting tulang sebagaimana Tasripin mendapatkan uluran tangan serupa. Di hari pendidikan nasional yang diperingati 2 Mei lalu, terungkap sejumlah anak yang memiliki kisah memprihatinkan.
Indah Sari, siswi SMP Negeri 4 Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah, menuturkan bahwa dia harus mengurus tiga adik dan ibunya yang mengalami gangguan jiwa.
Warga Desa Penusupan, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah itu tak menempati rumah sendiri. Tetapi, menyewa rumah yang berdiri di atas tanah bengkok desa. “Uang sewa sebesar Rp4 juta, namun karena tidak memiliki uang hingga kini baru dibayar Rp1 juta,” kata Indah.
Sampai saat ini, Indah harus menyelesaikan bayar sewa tanah yang saat ini digunakan untuk rumah tempat dia, ketiga adik dan ibunya tinggal.
Kepala Desa Penusupan Imam Yulianto membenarkan, sampai saat ini tanah bengkok desa yang digunakan keluarga Indah Sari disewa dengan kesepakatan harga lelang. “Biaya sewa sampai kini masih kekurangan Rp3 juta rupiah,” katanya.
Indah tidak tahu bagimana cara melunasi kekurangan pembayaran sewa tanah 5 x 6 meter milik desa yang digunakan untuk tempat berlindung bagi dirinya, adik serta ibunya.
Kepala SMP Negeri 4 Rembang, Sumarmo, prihatin dengan kondisi siswinya. Dia hanya bisa membantu sebisanya. Pihak sekolah telah membantu biaya sekolah Indah Sari di kelas IX dan dua adiknya, Supriyati Astuti dan Juliah di kelas VII, dengan menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Selain itu, kami para guru juga biasanya menyisihkan rejeki untuk membantu biaya hidup Indah Sari,” kata Sumarmo.
Meski beban hidup Indah Sari begitu besar, namun ia tetap tegar. Setiap hari, Indah Sari selalu mengajak adiknya, Supriyanti Astuti dan Juliah tetap sekolah. Sementara, adiknya yang baru berumur 5 tahun harus menemani sang Ibu, Tarmini, yang mengalami gangguan jiwa.
Selanjutnya sepulang sekolah, Indah Sari harus bekerja menjadi buruh plasma di perusahaan rambut bulu mata palsu dengan upah Rp150 per bulan. Meski hasil yang didapatkan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya, namun tidak ada pilihan lain baginya. Ia harus tetap menjalani hidup tanpa mengeluh.
Indah sebenarnya memiliki seorang kakak laki-laki. Namanya Tanto Purnomo. Tapi, dia sedang merantau ke Kalimantan, bekerja di sebuah bengkel. Beruntung, Tanto masih sering mengirim uang ke rumah, sekitar Rp300 ribu per bulan. Tiap bulan, jumlah itu masih harus dipotong Rp100 ribu untuk membayar cicilan utang almarhum ayahnya.
Ayah Indah, Warsito, meninggal dunia setahun yang lalu karena sakit. Sementara ibunya, Tarmini, mengalami gangguan jiwa karena tak kuat menanggung beratnya beban keluarga.
Indah tinggal di Desa Penusupan, Kecamatan Rembang. Purbalingga, Jawa Tengah. Kondisi rumahnya compang-camping dan nyaris roboh. Dinding rumahnya hanya terbuat dari papan dan anyaman bambu yang kini mulai lapuk. Saat hujan tiba, atap rumah itu mesti bocor, membuat lantai yang terbuat dari tanah jadi becek di mana-mana.
Di dalam juga kumuh. Baju Indah dan ketiga adiknya hanya dibiarkan teronggok di tempat tidur. Karena tidak punya lemari, sebagian dimasukkan saja ke dalam kardus lusuh. Untuk makan sehari-hari, Indah biasanya memasak sayur daun singkong yang diambil dari kebun tetangga. Jika stok makanan menipis, dia biasa mensiasatinya dengan makan cuma satu kali sehari.
Meski harus pontang-panting membanting tulang di umur semuda itu, di sekolah Indah dikenal sebagai siswi berprestasi. Murid kelas IX itu masuk kategori 10 siswa terbaik di sekolahnya.

3. Muhammad Said

Muhammad Said, seorang siswa kelas VI SD Mimbaan I Situbondo, Jawa Timur. Masa kecilnya harus diisi dengan dua kegiatan, yaitu belajar dan menjadi pemulung. Dia bekerja sebagai pemulung untuk membiayai kebutuhan empat adik dan satu kakak perempuannya.
Tanpa ada rasa malu, Said memulung usai sekolah. Masih berseragam putih merah dikaisnya sampah. Dia tak mengganti seragam sekolah terlebih dahulu agar pekerjaannya cepat selesai. Sebab, pekerjaan lain telah menantinya di rumah. Dikumpulkannya sampah layak daur ulang dalam kantung palstik. “Sehari dapat dua kresek (kantung plastik) kadang satu,” katanya.
Berapa yang didapatnya? Dari memulung, dia mendapatkan penghasilan Rp20-40 ribu per hari. Tapi itu pun tak menentu sesuai dengan barang yang dia dapatkan di sekitar jalan menuju rumahnya.
Menjadi pemulung terpaksa dilakukannya untuk bisa membantu biaya hidup empat adik dan satu kakaknya. Sang ibu diketahui bekerja sebagai TKI di luar negeri, sedangkan ayahnya tidak memiliki pekerjaan tetap.
Sehari-harinya keluarga Said harus hidup serba pas-pasan. Mie dan tempe kecap jadi menu rutin santapan mereka makan.
Bagaimana kedua orang tuanya? Ibu Said bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia sektor informal di luar negeri. Sementara, ayahnya tak memiliki pekerjaan tetap.

4. Sinar

Sinar Pahlawanku, sebuah lagu dari band ST12 yang terispirasi dari kisah nyata Sinar, nama bocah belia itu menampakkan bakti, cinta dan kasih sayangnya pada sang bunda, mengabaikan masa kecilnya pada saat anak-anak seusianya menghabiskan waktunya dengan bermain, sementara ia harus berada di samping bundanya yang sakit sejak dua tahun lalu.
Rumah Murni, nama ibu yang lumpuh ini terletak Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Walau tampak jauh dari keramaian kota, tapi rumah Murni juga tidak luput dari keramaian Pemilu lalu. Terbukti dengan banyaknya sticker partai dan caleg yang tertempel di dinding rumah kayu sangat sederhana itu. Tapi sepertinya para politisi dan kader partai itu abai dengan apa yang terjadi di tengah keluarga miskin ini. Para tetanggalah yang terkadang memberikan bantuan ala kadarnya untuk Murni dam putrinya, Sinar. Karena suami Murni sendiri merantau ke Malaysia.
Sinarlah yang membantu dan menemani ibunya selama ini. Mulai dari memindahkan atau menggeser tubuhnya, masak, makan, minum, mandi hingga buang air. Semua itu ia kerjakan sendiri dengan penuh cinta. Tayangan yang ditampilkan SCTV ini bahkan sanggup meruntuhkan air mata mereka yang menyaksikannya. Ada rasa iba dan takjub sekaligus melihat bocah usia 6 tahun yang tampak penuh tanggung jawab melakukan tugas mulianya, sambil mengusap mesra pipi ibunya.
Bocah kelas satu Sekolah Dasar ini bahkan kerap terlambat ke sekolah karena harus mengurus ibunya. Begitu pula setelah pulang sekolah. Nyaris seluruh waktunya telah ia persembahkan bagi ibunya yang sakit parah. Walaupun Sinar memiliki lima orang kakak dan juga belum dewasa, namun mereka semua tinggal terpisah dengannya. Faktor ekonomi membuat mereka menjadi pembantu rumah tangga.

5. Muhammad Aditya

Setiap hari ia melakukan semua pekerjaan rumah tangga layaknya orang dewasa, di sebuah rumah kontrakan di daerah Jombang, Jawa Timur. Mencuci, menyapu, mengepel, memasak, memandikan ibunya dan juga beberapa pekerjaan rumah tangga lainnya telah menjadi rutinitasnya setiap hari sejak dia berumur 3 tahun. Kadang memang ada tetangga yang membantu Aditya jika ia benar-benar tidak mampu untuk melakukan pekerjaan itu, misalnya memperbaiki listrik di rumah kontrakannya.
Muhammad Aditya, bocah 5 tahun (2011) asal Kabupaten Nganjuk Jawa Timur harus merawat ibunya yang lumpuh.
Menempati rumah kontrakan di Jl Wilis gang IIA Lingkungan Jarakan Kelurahan Ganung Kidul Kecamatan/Kabupaten Nganjuk, Adit, demikian Muhammad Aditya biasa disapa, menjadi perawat ibunya saat sang ayah menjalankan aktivitas pekerjaan di luar kota. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci dan menjemur pakaian, hingga menyiapkan air mandi untuk sang ibu yang hanya bisa terbaring di kasur, dengan tulus dilakukannya, “Subhanallah. Kalau Adit tidak melakukan ini, saya tidak tahu bagaimana kehidupan ini bisa saya jalani,” kata Sunarti, ibu kandung Adit.

Adit adalah anak satu-satunya yang dimiliki Sunarti dari pernikahannya dengan suami kedua yakni Rudi (45) asal Jombang. Dari pernikahan pertamanya wanita asal Tambak Sawah, Sidoarjo dikaruniai 3 anak laki-laki, yang saat ini sudah tinggal terpisah darinya.
Kisah pilu itu mulai terjadi saat Adit berusia setahun, tanpa sebab yang pasti mendadak Sunarti tak lagi bisa menggunakan kakinya untuk berjalan. Bahkan organ tubuh dari pinggang ke bawah saat ini sudah tak lagi berfungsi.
Saat ini Sunarti sepenuhnya menggantungkan hidupnya kepada Adit, meski dengan segala keterbatasan yang ada. Rudi, suaminya saat ini hanya pulang seminggu hingga dua minggu sekali untuk mengantarkan uang hasil bekerja, selebihnya banting tulang di luar rumah.
“Saya tidak pernah menyuruh dan tidak pernah memintanya melakukan. Seperti menyalakan lampu, saya hanya bilang kalau menggunakan kursi nanti bisa jatuh, gunakan saja sapu untuk menekan saklar, dan dia bisa melakukannya sendiri,” beber Sunarti mengenai apa yang dilakukan anaknya.
Sementara Adit, mengaku sama sekali tidak mengeluh. Meski tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, Adit mengaku melakukan semua pekerjaan itu karena rasa sayangnya kepada sang ibu. “Kasihan ibu atit (sakit),” kata Adit lirih, saat ditanya mengenai kelumpuhan ibunya.

6. Riana Mariati

Kekerasan mental terhadap dialami Riana Mariati, bocah kelas lima sekolah dasar di Pati, Jawa Tengah. Ia terpaksa merawat sang ibu Rasmini yang lumpuh sejak lima tahun silam. Sementara sang ayah memilih untuk menikah lagi hingga Riana hidup telantar.
Riana harus memasak dan menyuapi Rasmini sebelum ke sekolah. Sementara teman-temannya bermain saat istirahat sekolah tiba, Riana harus kembali ke rumah untuk merawat ibunya. Kondisi ini ia jalani sejak duduk di kelas satu SD. Tak jarang pula Riana dan Rasmini makan dari belas kasihan tetangga yang peduli dengan mereka.
Kisah Rasmini lumpuh berawal saat bekerja sebagai buruh di kebun tebu. Saat mengangkat tebu, ia terjatuh dan tiba-tiba badannya terasa sakit dan tak bisa berdiri lagi. Menurut Rasmini, ia sudah berusaha berobat untuk kesembuhannya. Bahkan pernah dirawat di Rumah Sakit Tayu, Pati. Tapi karena tak mempunyai biaya untuk operasi, ia harus pulang dan hanya bisa pasrah dengan musibah ini. Jangankan dioperasi, untuk pengobatan biasa saja biaya dipungut dari sumbangan warga.
Kisah Riana tentu mengingatkan pada Sinar, anak perempuan berumur tujuh tahun yang juga harus merawat ibunya yang lumpuh seorang diri di Polewali Mandar, Sumatra Barat. Kisahnya yang disorot media membuat nasibnya berubah drastis. Berbagai pejabat mulai tingkat daerah hingga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Agum Gumelar pun memberi perhatian khusus.

Artikel Lainnya