UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Mantan Kapolres Depok raih gelar doktor kriminologi

Ditulis pada 28 Jul 2015
oleh :


Depok (ANTARA News) – Brigjen (Pol) Gatot Eddy Pramono yang pernah menjadi Kapolres Depok, berhasil meraih gelar doktor Kriminologi Universitas Indonesia (UI) dengan nilai sangat memuaskan.

“Kami menganugerahkan gelar doktor kepada saudara Gatot Eddy Pramono dengan nilai sangat memuaskan,” kata satu dari lima promotor Prof Adrianus Meliala, di Gedung FISIP UI Depok, Senin.

Gatot Eddy Pramono berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Transformasi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) menjadi Kelompok Kekerasan (Studi terhadap kekerasan kelompok oleh 4 Ormas di Jakarta)”.

Dalam disertasinya Gatot mengatakan akar permasalahan transformasi organisasi kemasyarakatan (ormas) menjadi kelompok kekerasan, disebabkan tiga hal yaitu terganggunya kepentingan kelompok, identitas kelompok dan terganggunya organisasi sosial.

Selain itu, dijumpai sifat kolaborasi dan keberlangsungan yang khas dari ormas yang bertransformasi menjadi kelompok kekerasan.

Pada konteks tertentu, beberapa ormas yang pernah terlibat kekerasan secara unik dapat berkolaborasi guna menghadapi ormas lain.

Jenderal polisi bintang satu yang bertugas di Mabes Polri ini menegaskan, bahwa penyebab konflik oleh ormas adalah karena kesamaan kepentingan, hubungan emosional dan adanya musuh bersama.

Namun tidak berhenti di situ, dia menemukan hal baru yang berbeda dari teori konflik Gould yaitu keberlangsungan kolaborasi yang bersifat temporal. Sifat keberlangsungan yang tidak bertahan lama inilah yang disebut sebagai kolaborasi yang cair.

Polisi yang berlatar belakang reserse ini menambahkan, fakta bahwa transformasi ormas menjadi kelompok kekerasan, berpotensi mengarah pada organized crime. Temuan ini didasarkan pada fakta adanya kesamaan aktivitas ilegal untuk tujuan ekonomi yang dibarengi penggunaan kekerasan.

Mantan Direkrimum Polda Metro Jaya ini menambahkan, berdasarkan data catatan Polda Metro Jaya selama periode 2011 sampai 2014 terkait kasus-kasus yang melibatkan ormas, tercatat enam bentuk tindak kekerasan yang dilakukan.

Antara lain pengrusakan gardu, pengeroyokan terhadap anggota ormas tertentu, pengrusakan terhadap atribut ormas, perkelahian yang melibatkan kolaborasi antarormas.

“Dari keenam bentuk tindak kekerasan, pengrusakan gardu terdapat 24 kasus dan pengeroyokan sebanyak 10 kasus merupakan bentuk tindak kekerasan yang paling banyak terjadi selama tahun 2011 sampai 2014,” kata Gatot yang juga pernah menjabat Kapolres Metro Jakarta Selatan ini.

Gatot mengatakan aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh keempat ormas mengakibatkan timbulnya stigma masyarakat terhadap ormas yang erat kaitannya dengan aksi-aksi kekerasan. Timbulnya stigma itu, pada dasarnya merupakan akibat dari perubahan-perubahan fungsi dan tujuan ormas itu sendiri yakni memajukan kehidupan masyarakat maupun kelompoknya.

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Artikel Lainnya