UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Raih Gelar Doktor ITB Bekat Teliti Mainan Badui

Ditulis pada 29 Jun 2016
oleh :
Raih Gelar Doktor ITB Bekat Teliti Mainan Badui

foto ist

itoday – Bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi, tugas akhir atau thesis adalah kewajiban yang harus ditutaskan. Tugas akhir inilah yang seringkali membuat kuliah “molor”. Akan tetapi, sebuah ide sederhana mengantarkan Muhammad Zaini, seorang mahasiswa pasca sarjana mendapatkan gelar doctor ITB dengan lancar dan membanggakan.

Ide sederhana yang digunakan oleh Zaini dalam menyusun thesisnya dalam mainan dan permainan tradisional Badui. Dalam thesis tersebut dijelaskan dengan sangat teliti mengenai konsep permainan anak Badui dalam hingga manfaatnya kelak ketika anak itu dewasa. Thesis inipun tak ayal mengantarkan Muhammad Zaini meraih gelar S2 dengan predikat coumloude.

Alasan mengapa ia memilih meneliti mainan dan permainan tradisional Badui dalam adalah karena ia ingin menemukan permainan tradisional yang masih asli untuk membuktikan pemikirannya. Ia beranggapan bahwa suku Badui dalam adalah salah satu suku yang masih belum trejangkau dengan modernisasi sehingga kearifan budaya lokalnya masih sangat asli.

Anggapan Zaini mengenai suku Badui dalam ternyata benar. Saat memulai penelitian, ia tahu bahwa masyarakat disana tak mengenal kata bermain. Mereka menyebut bermain dengan ulin yang artinya bepergian karena tak memiliki pekerjaan. Bermain juga dianggap sebagai hal yang tak berguna sehingga harus dilarang.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan istilah pagawean barudak untuk menyebut kegiatan anak-anak. Pagawean barudak inilah yang menjadi konsep mainan dan permainan tradisional Badui.

Konsep pagawean barudak sebenarnya bisa dikatakan jauh dari konsep permainan pada umumnya. Pagawean barudak lebih mirip dengan pelatihan ketrampilan atau kegiatan kretivitas. Ha ini dikarenakan pagawean barudak akan menghasilkan karya seperti perangkap burung, perangkap ikan dan peralatan berburu lainnya. Tentunya ha seperti ini juga bertujuan untuk melatih kemampuan berburu anak Badui kelak ketika mereka dewasa.

Meski memiliki banyak sekali keunggulan, permainan tradisional Badui kini mulai ditinggalkan karena anak Badui mulai sibuk menemani orang tua mereka bekerja atau menemani tamu di rumah. Setidaknya seperti itulah permainan dan permainan tradisional Badui menurut Muhammad Zaini dalam thesisnya yang berjudul “Konsep Desain Vernakular Melalui Bentuk Transmisi Nilai Kaendahan pada Mainan dan Permainan Anak di Baduy Dalam, Banten”.

Artikel Lainnya