UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Tukang Kutu Loncat, Ahok Dinilai Terlibat Kepentingan Praktis

Ditulis pada 13 Jul 2016
oleh :
Tukang Kutu Loncat, Ahok Dinilai Terlibat Kepentingan Praktis

foto ist

itoday – Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing, mengaku tak heran dengan kegamangan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Dalam pandangan Emrus, ada indikasi kuat Ahok bakal meninggalkan Teman Ahok dan memilih maju lewat jalur partai demi memuluskannya maju pada Pilkada DKI 2017.‎

Emrus pun mengaku tak heran dengan pernyataan Ahok bila melihat sepak terjang politiknya selama ini yang kerap berpindah-pindah partai atau yang dikenal sebagai ‘Kutu Loncat’. Dia menyimpulkan bila Ahok merupakan politisi yang cair dan tidak konsisten.‎

Sebab, kata dia, kalau sudah jelas maju melalui jalur independen, Ahok tidak perlu lagi bicara untung rugi dan rasionalnya.

“Demokrasi ini rasionalnya ya jalur partai. Kenapa mesti ada penjelasan lagi kalau memang jelas maju independen. Golkar pernah ditinggalkan toh sekarang malah merapat lagi, ini mencerminkan praktik penuh dengan kepentingan praktis,” kata Emrus saat dihubungi di Jakarta, Senin (11/7/2016). ‎‎

Sebagai pemimpin, Emrus menyarankan sebaiknya Ahok tidak mengumbar syahwat politiknya dengan tetap konsisten maju melalui jalur independen, meski telah mencukup syarat dukungan partai politik.

Apalagi, kata dia, Teman Ahok selama ini sudah bekerja sangat keras dengan mengumpulkan sejuta Kartu Tanda Penduduk (KTP) lebih untuk maju melalui jalur independen.‎

Dengan begitu, lanjut Emrus, pada Pilkada DKI 2017 nanti, apabila Ahok menang melalui jalur independen, Ahok bisa menjadi tokoh yang mampu memperbaiki partai politik sebagai kendaraan demokrasi ideal seperti apa yang dicita-citakannya.

“Seorang pemimpin apa yang diucapkan harus sama, kalau tidak ya bukan pemimpin yang bagus. Ini menjadi petarungan bagus kalau Ahok konsisten independen dan menang. Kalau maju lewat partai, Ahok adalah politisi yang tidak punya garis ideologi,” tegas dia.

Sebelumnya, sebuah pesan berantai terkait protes terhadap komitmen Teman Ahok kembali beredar. Pesan tersebut berisikan penolakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) maju dari jalur partai politik (Parpol).

Di bawah pesan berantai itu juga tertera puluhan nama yang mengumpulkan KTP untuk Ahok.

Diketahui, dalam pesan tersebut, para pendukung Ahok jalur independen memperingati Teman Ahok soal tiga hal.

Pertama, Teman Ahok dituding melakukan kebohongan. Mereka mengaku dibuat percaya yang akhirnya menyerahkan foto kopy KTP.

Kedua, soal penggalangan bantuan barang dan uang yang dilakukan oleh Teman Ahok dengan alasan dibutuhkan untuk menggalang KTP.

Saat itu, Teman Ahok mengatakan dukungan akan diberikan bagi pencalonan Ahok dan Heru dari jalur independen.

Terakhir, pesan tersebut menuntut kerugian materiil dan imateriil yang mereka alami saat menyerahkan KTP. Sebab dalam mengumpulkan KTP dan dukungan mereka mencari KTP dan dukungan dari sanak saudara dan teman mereka.(TeropongSenayan)

 

sumber : intelijen.co.id

Artikel Lainnya