UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Kisah Keteladanan Sahabat nabi Ali Bin Abi Thalib

Ditulis pada 24 Jul 2013
oleh :

Ilustrasi (IST)

itoday- Ali bin Abi Thalib dilahirkan di Kota Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab atau tahun 599 Masehi dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, Asad merupakan anak dari Hasyim, Dengan demikian Ali adalah keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.

Menurut muslim Syi’ah Ali dipercaya lahir di dalam Ka’bah dengan nama Haydar bin Abi Thalib. Haydar berarti Singa. Sedangkan Baginda Nabi Muhammad SAW meberi nama Haydar dengan panggilan Ali yang berarti tinggi yaitu orang yang mempunyai derajat tinggi.

Hal ini sejalan dengan keinginan dan harapan keluarga Abu Thalib (paman Nabi Muhammad) agar mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy Mekkah.

Pada usia 25 tahun setelah menikahi putri kesayangan Nabi Muhammad SAW, Fatimah az-Zahra, pecahlah Perang Badar yaitu perang yang pertama kali dalam sejarah Islam. Dalam perang Badar ini, Ali betul-betul menjadi prajurit yang gagah berani disamping Hamzah, paman Nabi.

Banyak kaum Quraisy Mekkah yang memusuhi Islam tewas di tangan Ali. Begitu pula dalam Perang Khandaq. Keperkasaan dan kegagahberanian Ali bin Abi Thalib dalam pertempuran sangat ditakuti lawan. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, tubuh Amar bin Abdi Wud yang sangat membenci Islam itu terbelah menjadi dua bagian. Dan yang tak kalah pentingnya adalah peran Ali bin Abi Thalib dalam Perang Khaibar.

Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi. Ternyata dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecahlah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Perang Khaibar”. Pada saat pasukan Islam dan para sahabat Nabi tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi Muhammad SAW bersabda:

Demikian beberapa peristiwa peperangan untuk mempertahankan ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang mencatat keberanian dan kegagahan serta keperkasaan Ali bin Abi Thalib di dalam setiap pertempuran yang diikutinya. Selain kegagahberanian Ali yang tercatat dalam sejarah, juga tak kalah pesonanya adalah keteladanan beliau baik sebelum dan sesudah menjadi pemimpin, khalifah.

Ali bin Abi Thalib r.a adalah seorang pemimpin yang benar-benar zuhud dan taqwa kepada Allah SWT. Hal ini terbukti saat beliau menduduki jabatan perbendaharaan Negara. Beliau benar-benar teruji kejujurannya dalam mengelola, mengurus, dan menjaga perbendaharaan Negara.

Ketika Ali bin Abi Thalib meduduki jabatan Khalifah ke-4 menggantikan Usman bin Affan r.a, beliau oleh kaum Muslimin di kota Kufah diharapkan agar segera menempati istana yang besar dan megah. Ketika Ali melihat istana itu ia berkata: “Aku tak mau menempati istana itu!” Akan tetapi penduduk Kufah tetap mendesak Khalifah Ali bin Abi Thalib agar mau menempati istananya karena Khalifah adalah jabatan yang dianggap mulia. Akan tetapi tetap saja Khalifah Ali menolaknya dengan keras.

“Terus terang aku tidak membutuhkan itu! Umar bin Khatab sendiri pun tidak menyukainya!” Jawab Khalifah Ali r.a.

Meskipun Ali bin Abi Thalib menjadi seorang khalifah, Kepala Negara Islam, beliau tidak sombong, tidak memanfaatkan jabatannya untuk hidup bermewah-mewah di dalam istana. Beliau tetap hidup seperti rakyat biasa. Beliau benar-benar empati terhadap kehidupan rakyat jelata.

Demikian kepribadian dan perangai Ali bin Abi Thalib r.a yang demikian agung dan mulia tertulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam. Perjuangannya, keberaniannya, kejujurannya dan keamanahannya dalam menegakkan keadilan dan kebenaran sesuai dengan ajaran Islam yang rahmatan lil alamiin, rahmat bagi seluruh alam.