UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Melanggengkan Dongeng Anak di Pegunungan Menoreh

Ditulis pada 27 Jan 2016
oleh :
foto ist

foto ist

Magelang – Sejumlah anak satu sekolah dasar negeri di kawasan Pegunungan Menoreh melongokkan kepala masing-masing melalui salah satu jendela Gandok Sawitri kompleks Sanggar Seni Pondok Tingal, dekat Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Ketika dalang Junaidi dari depan kelir dengan suara penuh semangat meminta semua anak yang berjumlah sekitar 300 siswa berasal dari beberapa sekolah dasar di kawasan Borobudur itu, boleh mendekat ke tempat mendongeng, mereka ikut beringsut meninggalkan jendela tersebut.

Anak-anak pun dengan dampingan para guru, kemudian bergeser dari tempatnya bersila dan timpuh. Mereka duduk merapat di antara para penabuh gamelan dan di antara perangkat gamelan lainnya di gandok tersebut, untuk mengikuti dongeng anak. Beberapa di antara mereka, bahkan merapat hingga mempet kotak penyimpan wayang, berjarak sekitar satu meter dari tempat bersila sang dalang.

Acara dongeng anak secara rutin, setiap Sabtu Pahing (Kalender Jawa), oleh pengelola sanggar itu bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Borobudur.

“Sering ikut nonton wayang sambil bermain kalau ada pentas wayang di desa,” tegas Agus, siswa SDN Giritengah I Kecamatan Borobudur,di kawasan Pegunungan Menoreh, salah satu di antara tiga siswa yang sebelumnya melongok di jendela gandok tersebut.

Gending pembuka pun terlantunkan tiga sinden dari Sanggar Wayang Walisongo Yogyakarta ajakan Junaidi, yang juga pengajar Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, pada acara dongeng anak, akhir pekan lalu.

“‘Yo dho dongeng crito wayang, isine carito becik keno kanggo nuntun laku, sinau kanthi temen, kayo watak e satriyo luhur, pinter-pinter sarta pener, nanging ojo niru marang watak sing kang ala’,” begitu terdengar syair tembang diiringi tabuhan gamelan itu.

Syair tembang itu kira-kira maksudnya mengajak anak-ana menyimak dongeng berasal lakon wayang, supaya menyerap nilai-nilai luhur dan tidak meniru watak buruk.

Sebelum mendongeng dengan judul Pandawa Bejo Kurawa Cilaka, kepada anak-anak itu, Junaidi yang meraih doktor pedalangan melalui tesisnya tentang lakon wayang Salya Begal, karya pendiri Pondok Tingal, Boediardjo (1921-1997), memperkenalkan sejumlah buku tentang wayang yang ditulis khusus untuk kalangan pelajar, dengan penerbit Arindo Nusa Media Yogyakarta.

Pada kesempatan tersebut, juga terputar film animasi dengan durasi pendek khusus untuk anak-anak, tentang tokoh-tokoh wayang, karya tim animasi Pangestu Jaya Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Sedangkan staf UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Borobudur yang juga pegiat Sanggar Seni Pondok Tingal Budi Ismoyo berkesempatan menyampaikan pesan tentang pentingnya dongeng anak terlestarikan karena menjadi bagian dari penanaman nilai-nilai budi pekerti dan karakter bangsa.

“Kami selalu mengundang anak-anak dari PAUD, TK, hingga SD di seluruh kabupaten, untuk hadir mengikuti dongeng anak di sini,” ujar Budi, yang sejak tradisi dongeng anak itu dirintis Boediardjo, membantu mendatangkan anak-anak untuk hadir.

Awalnya, kata dia, berupa latihan wayang untuk anak-anak di rumah tinggal Boediardjo di Dusun Tingal, Desa Wanurejo. Dalam rangkaian latihan itu, ia mendongeng lakon wayang kepada anak-anak.

Hingga saat ini, dongeng anak di Pondok Tingal telah menjadi tradisi setiap Sabtu Pahing. Mereka yang menjadi pendongeng berasal dari berbagai kalangan, seperti para guru, tokoh seniman dan budayawan.

“Apa yang didongengkan, akan melekat dalam ingatan anak. Nilai-nilai budi pekerti itu melekat dalam diri anak hingga dewasa,” kata dia.

Pihaknya juga sering menggelar lomba mendongeng dengan peserta para guru di daerah setempat sebagai bagian dari upaya melahirkan para pendongeng yang andal untuk anak-anak. [tar]

 

sumber : inilah.com

 

Artikel Lainnya