UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Menarik, Wisata Budaya Situ Cangkuang Garut

foto ist

foto ist

Bandung – Garut, Jawa Barat mengembangkan objek wisata Situ Cangkuang menjadi kawasan wisata budaya. Paket menarik pun telah siap bagi wisatawan domestik maupun asing.

“Banyak yang akan kami gagas, nanti Cangkuang akan dijadikan wisata budaya, targetnya 2016 wisata budaya itu,” tegas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut, Budi Gan Gan Gumilar di Garut, Selasa (26/01/2016).

Ia menuturkan sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk melakukan pembenahan kawasan objek wisata agar lebih menarik dan memberikan pelayanan serta menyediakan sarana dan prasarana yang nyaman. Menurut dia, Situ Cangkuang degan cagar budayanya di Kecamatan Leles itu merupakan wisata unggulan di Garut yang banyak wisatawan lokal maupun asing kunjungi.

“Situ Cangkuang itu sangat menarik untuk dikunjungi, dan kita punya gagasan agar menjadi wisata budaya yang menjual,” jelas dia.

Ia mengungkapkan upaya pengembangan wisata budaya itu, diantaranya membenahi rumah adat Kampung Pulo tersebut agar lebih bersih mulai dari kamar mandi hingga halaman rumah.

“Kami sudah ketemu degan ketua adatnya agar diterapkan hidup bersih, budaya bersih, kamar mandinya bersih, halaman bersih, meskipun budaya mereka sebenarnya sudah bersih,” terang dia.

Ia menambahkan wisatawan juga dapat melakukan aktivitas di sawah seperti mencangkul, ngobor atau mencari belut yang memberikan kesan menarik. Selanjutnya masyarakat kampung sekitar untuk mempertahankan budaya memasak menggunakan tungku, kemudian menawarkan makanan sekaligus mengajak makan di sawah atau di kebun.

“Nanti penyajiannya atau cara masaknya harus bersih, lalu diajak budaya antaran sangu (nasi) ke sawah, atau ditawarin makan di sawah atau di kebun,” papar dia.

“Selain menawarkan wisata cagar budaya dan keindahan danau, pengunjung juga dapat menikmati keharmonisan dan bergaul bersama dengan masyarakat sekitar. Ketika tiba waktu magrib ada kegiatan ngaji di masjid, budaya yang baik untuk dipertahankan,” kata dia.

Ia berharap pengembangan wisata yang memberdayakan masyarakat itu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dari pendapatan hasil makanan yang dijual.

“Untuk itu agar objek wisata banyak pengunjungnya, maka harus diperbaiki kebersihan lokasi wisata, keramahan kepada pengunjung, dan keamanan. Jadi bagaimana menciptakan standar pelayanan agar pengunjung itu nyaman,” imbuh dia. [tar]

sumber : inilah.com

Artikel Lainnya