UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Tren Media Sosial dari Masa ke Masa

Ditulis pada 25 Oct 2015
oleh :

Liputan6.com, Jakarta – Sekarang media sosial tengah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Terkait hal ini, ada beberapa fenomena menarik. Misalnya, ada sebagian di antara kita, merasa ada yang kurang, jika tidak memfoto makanannya saat hendak makan dan mengunggahnya ke media sosial, atau check in di lokasi tertentu melalui akun media sosial miliknya.

Itulah sebagian gambaran singkat media sosial saat ini. Lantas, bagaimanakah tren media sosial di masa depan? Untuk menjawabnya, di salah satu sesi Geek Camp 2015 yang digelar oleh KMKLabs menghadirkan Aqsath Rasyid, CEO dari NoLimit.

Pertama, mari kita tengok dulu perkembangan media sosial, mulai dari sebuah e-mail yang pertama kali dikirimkan pada 1971, kemudian Bulletin Board pada 1978, hingga berbagai media sosial yang kita kenal saat ini, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sebagainya.

“Selama perkembangannya, fungsi media sosial pun mengalami perubahan. Bukan cuma berkembang cepat, tetapi juga revolusioner. Lihat saja change.org. Media sosial ini mampu mengumpulkan massa dalam jumlah banyak, dan dapat ‘menekan’ pemerintah untuk menanggapi atau menindak suatu isu,” ungkap Aqsath.

Di samping itu, ‘measurement’ di media sosial bagi perusahaan secara umum, juga mengalami perubahan.

“Dulu, perusahaan A bilang, akun media sosial kita sudah punya pengikut sekian juta. Tapi lama kelamaan, mereka sadar, dari jutaan tersebut, engagement yang tampak hanya sedikit,” tutur Arsyad.

Ternyata, lanjut Arsyad, perusahaan menyadari bahwa sebagian dari pengikutnya itu adalah akun palsu. Bahkan, di antara kita pun mungkin mengenal istilah ‘ternak akun’, ‘jual akun’, dan semacamnya.

Di sini, perusahaan mulai sadar bahwa jumlah pengikut tidak lagi relevan untuk dijadikan measurement dan beralih ke measurement baru, yaitu engagement. Engagement sendiri, seperti yang disadari oleh perusahaan, ternyata tidak lagi relevan.

Engagement pun pada akhirnya tidak relevan untuk dijadikan measurement. Sebab, di media sosial kita banyak temukan akun-akun yang notabene quiz hunter,” ungkap Arsyad.

Mereka, menurutnya, terlibat dengan aktivitas perusahaan di media sosial bukan semata-mata karena tertarik dengan produk perusahaan, tapi karena iming-iming seperti hadiah yang ditawarkan. Otomatis, engagement pun tersisihkan sebagai measurement.

Lebih lanjut, alumnus S-1 dan S-2 ITB ini mengatakan bahwa saat ini merupakan kebalikan dari masa-masa sebelum tahun 2000. Sebelum tahun 2000, kitalah yang mesti mencari informasi dengan susah payah, tapi saat ini adalah kebalikannya. Sebab informasi sudah ada titik overload, bahkan tanpa harus kita cari sekalipun, sehingga kita harus menyaringnya.

“Ke depannya, media sosial yang mungkin akan booming mirip-mirip dengan grup WhatsApp dan grup LINE, yang secara spesifik relevansinya bisa diatur oleh user. Misalnya, grup WhatsApp ini khusus untuk teman kuliah, grup ini untuk ngegosip, dan semacamnya,” tutup Arsyad.

(why/isk)

Sumber: Liputan6

Artikel Lainnya