UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Baterai Lithium-Air Ini 10 Kali Lebih Bertenaga dari Lithium-Ion

Ditulis pada 07 Nov 2015
oleh :

Liputan6.com, Jakarta – Sebuah baterai lithium-air baru yang diciptakan para peneliti di University of Cambridge membuka jalan menuju baterai masa depan. Dengan kepadatan energi yang sangat tinggi, efisiensi lebih dari 90 persen, dan kemampuan untuk lebih dari 2.000 siklus pengisian, baterai uji baru tersebut mampu membuktikan batu loncatan penting dalam pengembangan teknologi penting ini.

Ide dari baterai lithium-air atau baterai lithium-oksigen ini sebetulnya bukanlah hal baru. Para ilmuwan sebelumnya telah mengenal bahwa jenis baterai ini dapat menyimpan daya hingga 10 kali lebih banyak dari baterai lithium-ion. Bayangkan, dengan daya sebanyak itu, Anda tidak harus mengisi daya baterai smartphone untuk satu pekan.

Apa yang dilakukan tim Universitas Cambridge adalah mengatasi beberapa tantangan praktis yang sebelumnya telah mencegah teknologi lithium-air menjadi pilihan yang layak. Demikian seperti dikutip dari laman ScienceAlert, Jumat (6/11/2015).

Baca Juga

Secara terperinci, baterai baru dari laboratorium Universitas Cambridge tersebut memiliki kapasitas lebih tinggi, efisiensi lebih baik, dan peningkatan stabilitas dibandingkan dengan jenis baterai sebelumnya.

Stabilitas ini, jika kita memasangkan baterai tersebut ke jutaan mobil dan smartphone sebagai hal penting, dicapai dengan menggunakan elektroda karbon ‘berbulu’ yang terbuat dari graphene.

Terlebih lagi, dengan mengubah campuran kimia dari baterai lithium-air versi sebelumnya, para peneliti mampu mencegah baterai tersebut mengalami penurunan secara signifikan dari waktu ke waktu.

“Apa yang kami raih adalah kemajuan signifikan untuk teknologi ini dan menunjukkan area utuh yang baru untuk penelitian. Kami belum memecahkan semua masalah yang melekat untuk kimia ini, namun hasil yang kami lakukan menunjukkan peningkatan menuju perangkat praktis,” kata Clare Greay, penulis senior di jurnal ilmiah, dalam sebuah pernyataan pers.

Sayangnya, teknologi ini diperkirakan baru akan terwujud sekitar satu dekade atau lebih lama lagi. Baterai demonstrasi yang dihasilkan para ilmuwan masih membutuhkan oksigen murni untuk pengisian dan oksigen murni bukanlah sesuatu yang banyak kita miliki.

Di samping itu, masih ada risiko baterai meledak karena dendrit yang diciptakan selama proses pengisian. Kendati demikian, pada akhirnya masalah ini akan dapat ditangani, tapi tentu stelah melalui banyak penelitian dan percobaan.

(why/isk)

Sumber: Liputan6

Artikel Lainnya