UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Ini Kata ADVAN Soal Maraknya Ponsel BM

Ditulis pada 28 Jun 2016
oleh :

Ini Kata ADVAN Soal Maraknya Ponsel BM

foto ist

itoday – Maraknya produk ponsel BM (Black Market) di pasaran tanah air tak dipungkiri membuat resah para vendor pemain resmi. Pasalnya kehadiran produk-produk itu diketahui menggerus angka penjualan dari produk milik distributor resmi. Tentu itu merugikan, mengingat tak sedikit investasi yang harus dikeluarkan untuk menjadi distributor resmi dari vendor.

Bagi negara produk-produk BM ini juga sangat merugikan, khususnya dari sektor penerimaan pajak, mengingat ponsel/smartphone macam ini tak membayar pajak sebagaimana mestinya.

Nah, kehadiran banyak ponsel/smartphone BM diyakini juga ‘mengganggu’ ADVAN selaku produsen ponsel, meskipun vendor nasional ini tak secara gamblang mengungkapkan keresahannya.

Tjandra Lianto, Marketing Director ADVAN mengatakan, “Black Market ini kaya bayangan. Kita bisa rasakan tapi tidak bisa kita sentuh, ada dan tiada. Masyarakat kita banyak tergiur karena harganya murah.”

Sebagai produsen ADVAN mengingatkan jika harga murah pada ponsel BM itu bukanlah jaminan, mengingat yang paling penting adalah after sales-nya.

“Harga murah saja bukan menjamin bahwa produknya bagus. Boleh waktu mereka beli harganya miring, misalnya lebih murah 30% bahkan 50%. Tapi misalnya di satu ketika produknya ada masalah, jaringan service center tidak akan menerima, karena produk BM,” ujar Tjandra di CVG Blitz, Pacific Place, Jakarta, (27/06/2016).

Tjandra juga mengungkapkan jika kondisi ini adalah permasalahan klasik, karena sudah terjadi dari jamannya laptop dan sampai sekarang belum bisa terselesaikan dengan baik.

Namun ADVAN mengakui jika pihaknya tak bisa mencegah konsumen membeli barang yang murah. Hanya saja ADVAN ingin menyampaikan edukasi ke pasar, agar konsumen berhati-hati jangan tergiur oleh harga yang murah saja, tapi harus memperhatikan kualitas dan aftersales-nya.

Itulah sebabnya ADVAN terus meningkatkan kualitas pelayanan aftersales-nya, dimana terus membuka ADVAN Service Center (Vancare) ke lebih banyak lokasi di penjuru tanah air. “Kenyamanan dan kemajuan merupakan bagian yang penting bagi kita, maka kita serius membangun jaringan service center kita di seluruh Indonesia. Akhir Juni ini sudah ada 51 titik”, tutup Tjandra. (wr)

sumber : tabloidpulsa.co.id

Artikel Lainnya