UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Kenapa Pelaku Teror Kebanyakan Pria? Ini Jawabannya

Ditulis pada 29 Jun 2016
oleh :
Kenapa Pelaku Teror Kebanyakan Pria? Ini Jawabannya

foto ist

itoday – Masihkah anda mengingat kejadian penembakan yang dilakukan oleh seorang pria bernama Mateen pada Minggu, 12 Juni 2015 di Orlando, Florida Amerika Serikat? Setelah melihat beberapa kasus kejahatan teror, mungkin anda sempat bertanya-tanya, kenapa kebanyakan kejahatan teror dari kalangan pria?

Terkait dengan pertanyaan tersebut, ternyata ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh salah satu dosen psikologi Pennsylvania State Harrisburg yaitu Marissa Harrison. Dirinya membuat sebuah riset yang menggunakan sample 90 pria yang terlibat kasus pembunuhan masal dimulai dari 1996 sampai 2008.

Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa ternyata sekitar 80% dari penyebab kejahatan teror atau pembunuhan ini berawal dari adanya ancaman kepada pelaku. Hal-hal tersebut seperti terjadinya bullying atau pemecatan.

Meskipun acaman terhadap status ini termasuk kedalam ancaman reproduktif, namun Horrison mengatakan bukan berarti wanita tidak pendendam atau kejam, menurutnya pria memiliki sifat brutal yang berbeda.

Dilansir dari Tempo, Senin (20/06/2016) hasil penelitian mengatakan bahwa 98% para pelaku kejahatan teror atau pembunuhan masal adalah seorang pria. Horrison mengatakan “Mereka sering punya motif balas dendam. Dengan membunuh pelaku merasa memiliki kekuatan”.

Seorang dosen dan psikolog dari Temple University yaitu Frank Farley mengatakan hal tersebut seperti sebuah medan perang. Bisa kita lihat dimana seorang pria lebih senang mengoleksi beberapa senjata, pakaian ala-ala militer, atau melakukan melakukan bangunan secara acak. Namun hal seperti ini tidak terjadi kepada seorang wanita, karena serangan yang mereka lakukan cenderung ke orang terdekat. Bisa kita lihat, sebagian kasus pembunuhan terhadap balita atau anak hampir selalu dilakukan oleh wanita.

Senjata yang mereka gunakan untuk melakukan kejahatan teror juga berbeda. Seorang dosen dari Decker School of Nursing yang berada di Binghamton University yang sudah melakukan penelitian terhadap psikologi mengatakan bahwa seorang pria lebih menyukai senjata api, sedangkan wanita lebih suka membunuh korban dengan cara menenggelamkan atau mencekik.

Matten yang melakukan penembakan secara brutal dan membuat sekitar 57 luka, 50 orang meninggal ini ternyata memang telah membeli dua buah pistol secara legal. Menurut penuturan mantan istrinya, ia memang memiliki ijin atas itu, dan Matten yang sempat menginginkan jadi polisi ini memiliki gangguan jiwa.

 

Artikel Lainnya