UPDATE Data Pantauan Tinggi Muka Air (Senin, 27 Januari 2014, Pkl 16.00 WIB : Katulampa 50 cm (Siaga 4/Normal) - Pesanggrahan 85 cm (Siaga 4/Normal) - Angke Hulu 130 cm (Siaga 3/Waspada) - Cipinang Hulu 90 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Hulu 50 cm (Siaga 4/Normal) - Depok 140 cm (Siaga 4/Normal) - Manggarai 710 cm (Siaga 4/Normal) - Karet 440 cm (Siaga 4/Normal) - Waduk Pluit -150 cm (Siaga 4/Normal) - Pasar Ikan 130 cm (Siaga 4/Normal) - Pulo Gadung 400 cm (Siaga 4/Normal) - Sunter Utara 86 cm (Siaga 3/Waspada) - Sunter Selatan 16 cm (Siaga 4/Normal) - Krukut Hulu 75 cm (Siaga 4/Normal)

Lincolin Arsyad

Ditulis pada 16 Jul 2015
oleh :
Lincolin Arsyad (paratokohlampung)

Lincolin Arsyad (paratokohlampung)

Berangkat dari ketekunannya, Lincolin Arsyad mampu menembus jajaran ekonom elite di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, gudangnya ekonom di Tanah Air bersama Universitas Indonesia.

Ia dilantik sebagai dekan FEB-UGM pada 14 November 2007. Dengan demikian, Lincolin-lah dekan pertama di lingkungan UGM yang berasal dari Lampung. Prestasi Lincolin sangat gemilang karena kompetisi dosen di UGM dikenal sangat terstruktur dan ketat, terlebih untuk fakultas ekonomi.

Lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang memiliki tradisi pendidikan ketat, sejak kecil Lincolin Arsyad memprioritaskan belajar di atas kesibukan lain. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, orang tua Lincolin, Mohammad Arsjad Siradj, selalu mengingatkannya untuk belajar, belajar, dan belajar.

Selama menempuh pendidikan ekonomi, minat utama Lincolin pada pembangunan daerah dan pengembangan lembaga keuangan mikro. Hingga kini minat tersebut tidak bergeser.

Disertasi doktoralnya juga fokus pada upaya pengentasan kemiskinan dan advokasi pada rakyat kecil. Ia terobsesi memberantas kemiskinan melalui optimalisasi lembaga-lembaga keuangan mikro. Dari pengamatannya sejak tahun 1993, Lincolin meyakini masyarakat miskin dapat meningkatkan derajat kehidupannya menjadi lebih baik apabila diberi kesempatan yang memadai. Salah satu caranya dengan membentuk lembaga keuangan mikro. Dua-duanya saling mengisi, warga miskin dapat melepaskan diri dari belenggu kemiskinan, sedangkan lembaga keuangan mikro pun dapat memetik keuntungan dan menjadi lembaga yang kuat.

Ia mencontohkan lembaga keuangan mikro dapat berkembang baik di Bali yang dinamai Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Ide pendirian lembaga ini muncul dari masyarakat sendiri, dikelola masyarakat, dan hasilnya dinikmati masyarakat juga.

Selain keuangan mikro, mahasiswa Teladan FE-UGM tahun 1984 ini dikenal sangat intens menganalisis kebijakan pemerintah terkait daya saing investasi. Pada satu kesempatan, ia menyatakan turunnya daya saing Indonesia dalam menarik investor asing karena regulasi pemerintah yang kurang mendukung iklim investasi, serta tidak adanya kepastian hukum terhadap berbagai penyimpangan.

ia mengatakan kebijakan politik pemerintah juga memiliki andil dalam penurunan daya saing investasi ini karena dampak dari pergantian sejumlah menteri atau pejabat negara yang mengakibatkan kepercayaan investor asing turun. Sedangkan dari aspek eksternal, dapat dilihat bagaimana kini Vietnam sudah menjadi investor dan memiliki tenaga kerja produktif yang murah, sedangkan Indonesia kurang menjanjikan.

Sumber: paratokohlampung

Artikel Lainnya